Umumnya kreativitas berbanding lurus dengan kecerdasan. Karena itu, seorang anak yang intelegensinya baik cenderung berinisiatif melakukan banyak hal dengan cara berbeda.

“Kreatif itu ketika melakukan sesuatu dengan cara yang nggak biasa. Istilahnya anti-mainstream. Jadi anak punya aneka alternatif untuk menyelesaikan sesuatu,” tutur psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (6/10/2015).

Ratih mencontohkan, bagi seorang anak kreatif, gitar tidak sekadar alat musik petik tetapi bisa juga dijadikan gendang dengan memanfaatkan bagian belakangnya. Jadi anak akan menabuh-nabuh kayu bagian belakang gitar untuk mendapatkan bunyi lain yang menarik.

Contoh lainnya adalah ketika anak menggunakan kursi tidak sekadar sebagai tempat duduk atau meja tidak sekadar tempat untuk menulis. “Suatu kali anak berdiri di kursi untuk mengambil sesuatu yang letaknya tinggi. Ini jangan dikatakan anak tidak sopan karena berdiri di kursi, tapi dia berdiri di kursi karena ada tujuan untuk menyelesaikan masalahnya,” papar alumnus Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia yang saat ini berpraktik di RaQQi ini.

Apakah anak yang kreatif sampai dewasa pun akan tetap kreatif? Menurut Ratih, suatu perilaku berkembang dengan situasi yang menyertainya. Jadi ada kebiasaan yang membentuk perilaku seseorang.Misalnya ketika kecil, seorang anak rajin membantu mengerjakan pekerjaan rumah namun ketika sudah dewasa bisa jadi begitu malas. Ini karena perlahan dia meninggalkan kebiasaan melakukan pekerjaan rumah.

“Bisa menghilang pelan-pelan dengan kebiasaan dan lingkungannya, tapi sebenarnya dia punya basic kreatif yang bisa muncul lagi,” sambung Ratih.