Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin mempertahankan momentum penguatan sejak pembukaan, sehingga mampu melesat 3% saat penutupan. Aksi beli ramai terjadi atas saham-saham unggulan.

Mengakhiri perdagangan awal pekan, Senin (5/10/2015), IHSG ditutup melonjak 135,902 poin (3,23%) ke level 4.343,701. Sementara Indeks LQ45 melompat 32,386 poin (4,62%) ke level 733,702.

Wall Street melonjak tinggi, dengan Indeks S&P 500 positif lima hari berturut-turut, didorong oleh naiknya saham-saham energi berkat harga minyak dunia. Investor pun sudah yakin The Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya tahun ini.

Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, Indeks Dow Jones melonjak 304,06 poin (1,85%) ke level 16.776,43, Indeks S&P 500 bertambah 35,69 poin (1,83%) ke level 1.987,05 dan Indeks Komposit Nasdaq melesat 73,49 poin (1,56%) ke level 4.781,26

Hari ini IHSG diperkirakan masih bisa melanjutkan penguatan. Aksi beli investor baik asing maupun domestik akan kembali ramai.

Pergerakan bursa-bursa di Asia pagi hari ini:

  • Indeks Nikkei 225 melonjak 298,23 poin (1,66%) ke level 18.303,72.
  • Indeks Straits Times menanjak 30,78 poin (1,08%) ke level 2.882,03.

Rekomendasi untuk perdagangan saham hari ini.
First Asia Capital
Aksi beli marak sepanjang perdagangan saham awal pekan kemarin. IHSG berhasil melonjak 135,902 poin (3,23%) di 4343,701, menutup gap yang terjadi pada perdagangan 23 September lalu. Ini merupakan level penutupan tertinggi IHSG sejak perdagangan 22 September. Nilai transaksi saham di Pasar Reguler meningkat mencapai Rp4,43 triliun melampaui rata-rata harian sepanjang tahun ini sebesar Rp4,36 triliun. Penguatan kemarin turut ditopang masuknya arus dana asing yang mencatatkan nilai pembelian bersih hingga Rp335,34 miliar setelah pekan lalu asing mencatatkan penjualan bersih Rp622 miliar. Saham sektoral yang menjadi pendukung utama penguatan IHSG kemarin adalah saham sektoral yang sensitif interest rate seperti perbankan, properti, jasa konstruksi dan pendukungnya dan sektor konsumsi.

Penguatan IHSG kemarin terutama ditopang faktor eksternal menyusul spekulasi ditundanya kenaikan tingkat bunga The Fed tahun ini setelah data tenaga kerja AS yang keluar akhir pekan lalu kurang menggembirakan. Kemungkinan The Fed menaikkan tingkat bunganya pada pertemuan Desember mendatang menurut survei turun pekan ini menjadi 33,4% dari pekan sebelumnya 43%. Sentimen global ini berdampak positif bagi pergerakan mata uang dan pasar saham emerging market kemarin. Nilai tukar rupiah atas dolar AS kemarin menguat hampir 1% di Rp14503/US dolar. Ini merupakan level terkuat rupiah dalam lima pekan terakhir.

Sementara Wall Street tadi malam kembali rally. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 1,85% dan 1,83% tutup di 16776,43 dan 1987,05. Selain dipicu redahnya kekhawatiran kenaikan tingkat bunga The Fed akhir tahun ini, rally di Wall Street turut ditopang ekspektasi rilis kinerja 3Q15.

Dengan kondisi pasar global yang kembali bullish, IHSG pada perdagangan hari ini akan kembali berpeluang melanjutkan penguatannya. Redahnya resiko capital outflow dan peluang penguatan lanjutan rupiah atas dolar AS akan menjadi penopang penguatan IHSG. Dari domestik, pasar juga akan mengantisipasi rencana pemerintah mengumumkan paket kebijakan ekonomi tahap III Kamis ini. IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 4310 dan resisten di 4370.

OSO Securities
Awal pekan ini IHSG berhasil menguat tajam dengan naik sebesar 3.23% ke level 4,343.70. Penguatan tersebut merupakan yang tertinggi di bursa Asia. Sebanyak 110 saham menguat, 156 saham melemah dan 75 saham tidak bergerak dan 216 saham tidak ditransaksikan. Semua sektor berhasil menguat, dipimpin oleh sektor finance dan manufactur yang masing-masing naik sebesar 4.52% dan 4.03%. Rendahnya data tenaga kerja AS non pertanian, memicu spekulasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini, yang menyebabkan aliran modal keluar dari AS, sehingga mengangkat rupiah untuk menguat. dimana akhir perdagangan ini, rupiah berhasil terapresiasi sebesar 0.99% ke level 14,503. Pelaku pasar domestik juga sudah berani masuk ke pasar saham seiring dengan optimisme akan kebijakan ekonomi jilid III yang akan menstabilkan perekonomian Indonesia dalam jangka pendek. Selain itu kebijakan yang akan diambil oleh otoritas jasa keuangan untuk menangani perlambatan di pasar keuangan yang menjadi katalis penggerak market kemarin. Pelaku pasar asing mencatatkan net buy senilai Rp 335.34 miliar.

Dari bursa Asia, semua indeks berhasil mencatatkan penguatan, dengan penguatan tertinggi dipimpin oleh indeks Sensex(2.22% ) dan Nikkei (1.58%).

Indeks utama bursa Wall Stret kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan semalam dengan naik cukup signifikan, ditengah masih melambatnya ekonomi AS. Rilisnya data Non Manufacturing PMI bulan September yang hanya 56.9 atau lebih rendah dari sebelumnya 59 semakin menambah ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini. Kondisi tersebut mendorong untuk menekan dolar ke level lebih rendah, yang selanjutnya akan membantu emiten multinasional untuk meningkatkan laba. Indeks Dow Jones naik sebesar 1.85% ke level 16,776.43, S&P 500 menguat 1.83% ke level 1,9787.05 dan Nasdaq menguat 1.56% ke level 4,781.26. Saat ini pelaku pasar AS sedang menantikan kinerja keuangan emiten kuartal III yang akan dirilis pekan ini.

Sementara itu, bursa Eropa semalam berhasil melanjutkan penguatan pada akhir pekan sebelumnya. Penguatan terjadi akibat dari sentimen positif dari bursa global, dimana hampir mayoritas indeks di Asia dan Amerika mencatatkan penguatan. Indeks FTSE 100 naik 2.76% ke level 6,298.92, CAC 40 menguat 3.54% ke level 4,616.90 dan DAX menguat 9,814.79.

Kami perkirakan, hari ini IHSG masih akan bergerak naik. Secara teknikal, MACD histogram terlihat menguat dengan indikator stochatstic oscilator yang terus naik dan mulai menyentuh area oversold. IHSG akan berada dikisaran 4290-4390.